Nostalgia ala Bus “Vintage Series” Transjakarta

Posted on
Loading...

Seperti biasanya, Kota Jakarta tampak sibuk menjelang sore. Mobil-mobil berbaris mengantre untuk mengambil jalan. Motor-motor pun bersanding dengan mobil. Para pekerja memenuhi bahu jalan dan halte untuk menunggu bus.

Pemandangan itu selalu saya saksikan di area pusat ibu kota, tepatnya di Jalan Muhammad Husni Thamrin. Namun, hal berbeda saya dapatkan saat menunggu bus Transjakarta di Halte Bank Indonesia. Kebetulan, pada Rabu (30/11/2016) sore itu, saya mencoba bus Vintage Series keluaran PT Transportasi Jakarta.

Beberapa waktu lalu PT. Transportasi Jakarta meluncurkan bus Vintage Series untuk pengguna Transjakarta. Dua buah bus bergaya Pengangkut Penumpang Djakarta (PPD) berlalu-lalang di Koridor 1 Blok M – Jakarta Kota.

Sore itu, penumpang Halte Bank Indonesia bertumpuk di dua sisi yaitu arah Kota Tua dan Blok M. Beberapa tertunduk menatap telepon genggam dan tampak lesu.

nostalgia-bus-transjakarta
“Biasanya sih 10-15 menit. Tapi ini lagi macet, ada demo,” tandasnya.

Dewi fortuna sungguh tengah menemani saya. Tak sampai 10 menit kemudian, bus Vintage Series melintas di depan saya. Dari bagian luar bus, terlihat tulisan “Vintage Series” dan logo berwarna kuning bertuliskan “PPD”.

Kondektur Transjakarta melambaikan tangan.

“Ayo.. Blok M, Blok M,” teriak kondektur.

Saya melangkah. Rasa gerah di halte berganti dengan sejuknya hawa berpendingin udara. Kebetulan bus itu juga tidak terlalu sesak.

Mata saya menjelajahi badan bus. Di dekat atap dan pintu bus, tertempel replika berita tentang bus PPD dan iklan-iklan produk tempo dulu.

“Blok M – Kota Dalam 28 Menit,” bunyi judul dari Majalah Intisari yang tertempel dalam versi berwarna.

Foto-foto bus PPD yang terekam di Harian Kompas juga dipajang. Ada foto deretan bus PPD, dan foto pembuatan bus. Ada pula foto bus PPD di tengah kerumunan warga Jakarta.

Poster iklan yang tertempel antara lain poster sampo, pasta gigi, dan alat elektronik. Gambar-gambar pada poster tersebut terasa sederhana. Tak berwarna dan kompleks seperti iklan-iklan saat ini.

Kesan jadul memang jelas tertangkap lewat penggunaan ejaan lama, warna tulisan artikel Harian Kompas yang memudar, serta tentunya poster iklan di dalam bus.

Saat mata saya memandang ke jendela bus, kontras terasa. Kesan jadul digantikan mengilapnya gedung-gedung pencakar langit. Tak ada kendaraan seperti era-era 1980-an.

Perum Perusahaan Pengangkutan Djakarta (Perum PPD) merupakan perusahaan milik pemerintah di bidang transportasi umum darat. PPD menjadi embrio dan pioneer perkembangan angkutan bus di Jakarta.

PPD memulai perjalanan bisnis transportasi dengan angkutan umum trem pada 1920 dengan nama Bataviach Elektrische Tram Maatschappij – BVMNV. Untuk mengutamakan kepentingan umum, BVMNV kemudian dinasionalkan dan dikuasai oleh negara berdasarkan Undang-Undang Darurat No.10 tahun 1954.

Sebagai tindak lanjut nasionalisasi tersebut, dengan akte notaris Mr Raden Suwandi No.76 tanggal 30 Juni 1954 dan No.82 tanggal 21 Desember 1954, BVMNV diubah bentuk hukumnya menjadi Perseroan Terbatas (PT) dengan nama Perusahan Pengangkutan Djakarta.

Momen-momen nostalgia ala bus PPD bukan hanya saya yang merasakan. Beberapa penumpang juga turut terlempar ke era PPD kala itu.

Seperti laki-laki paruh baya dan telah berambut putih asal Tangerang, Kasyim. Pada tahun 1980, ia tinggal di Jakarta dan kerap menggunakan PPD. Saya bertemu Kasyim di Halte Bundaran Senayan.

“Bagus dan menarik. Kembali seperti jaman dulu. Saya dulu sering naik rute PPD Blok M – Pasar Senen,” ujarnya.

Dari Halte Bundaran Senayan, saya kembali menuju arah Monumen Nasional tepatnya ke Gedung Kementerian Pariwisata. Tuntas sudah misi bernostalgia bersama bus Transjakarta Vintage Series.

sumber : Kompas.com

 

Save